BPPT Kembangkan Hujan Buatan Berbasis AI untuk Kebakaran Hutan

foto
© Copyright (c) 2016 TEMPO.CO foto

TEMPO.COJakarta – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca mengembangkan aplikasi berbasis kecerdasan buatan untuk diterapkan dalam penanggulangan ebakaran hutan dan lahan menggunakan teknologi hujan buatan. Aplikasi itu telah dikenalkan dalam pameran Indonesia Artificial Intelligence Summit 2020 yang digelar 11-13 November.

“AI TMC Karhutla dikembangkan dalam kerangka menghasilkan suatu perspektif baru dalam memahami profil parameter hidrometeorologi yang kemudian diolah untuk menghasilkan indikator tingkat ancaman kejadian kebakaran hutan dan lahan ke depan,” ujar Jon Arifian, Kepala BBTMC-BPPT, lewat keterangan tertulis, Rabu 11 November 2020.

Keluaran dari aplikasi itu adalah analisis prediksi tinggi muka air tanah di lahan gambut dalam tiga bulan ke depan. Data kemudian dapat menjadi referensi pemangku kepentingan di pusat dan daerah. “Untuk menentukan upaya mitigasi terhadap potensi bencana kebakaran hutan dan lahan dengan cara pembasahan lahan gambut melalui Teknologi Modifikasi Cuaca,” katanya.

Halda Aditya Belgaman, perekayasa muda sekaligus koordinator AI Karhutla BBTMC mengatakan kalau pengalaman selama ini menunjukkan kebutuhan waktu yang tidak sedikit untuk perencanaan dan pelaksanaan operasi hujan buatan di daerah bencana kebakaran hutan dan lahan.

“Hasil dari analisis korelasi antara hotspot dengan tinggi muka air tanah nantinya dapat memberi gambaran kepada BBTMC mengenai daerah-daerah rawan mana saja yang prioritas penyemaian awan,” ujar Aditya menuturkan.

Alur sistem AI Karhutla ini menggabungkan data observasi tinggi muka air tanah dari lapangan, yang diinput ke dalam proses data engineering (quality check, data preparation, data aggregation) dan proses data sains (test model dengan berbagai algoritma). Hasil prakiraan model berikutnya ditampilkan dalam aplikasi atau website.

“Porsi artificial intelligence di sini adalah proses forecasting menggunakan algoritma yang ada, dilakukan di proses data sains. Algoritma machine learning juga digunakan pada tahap clustering hotspot,” kata Aditya lagi.

Yudi Anantasena, Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam BPPT, juga mengungkapkan kalau BPPT kerap diminta melaksanakan operasi teknologi modifikasi cuaca saat bencana kebakaran hutan dan lahan sudah terjadi. Biasanya di puncak musim kering dimana awan-awan potensial sudah sangat berkurang, sehingga operasi teknologi itu dipandang sudah kurang efektif.

“Jadi Sistem AI TMC Karhutla yang saat ini dibuat untuk membantu merencanakan kapan operasi TMC harus dilakukan untuk pembasahan lahan gambut,” kata dia.

Sistem AI yang dikembangkan melibatkan perusahaan teknologi IBM itu rencananya akan menarget operasi di 6 provinsi: Jambi, Sumatera Selatan, Riau, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Keenamnya sudah memiliki sensor observasi tinggi muka air dalam tanah gambut

Sebagai proyek pilot dari pengembangan aplikasi itu dipilih Kabupaten OKI (Ogan Komering Ilir). Selain IBM, BPPT juga melibatkan BRG (Badan Restorasi Gambut) dan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika), KLHK serta BNPB dalam implementasi sistem ini. “Saat ini dalam pengembangan prototipe sudah dilakukan di 6 provinsi tersebut,” ujar Yudhi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.