Ilmuwan Temukan Planet Berbatu Mengorbit Bintang Tertua

REPUBLIKA.CO.ID, Dwi Murdaningsih; HAWAII — Hampir semua planet yang ditemukan hingga saat ini (termasuk planet tata surya) terbatas pada galaksi Bima Sakti. Namun, para astronom di Institut Astronomi Universitas Hawaiʻi (IfA) yang menggunakan teleskop di Observatorium W. M. Keck di Maunakea menemukan planet berbatu dengan jenis berbeda.

Ilustrasi planet berbatu.
© W. M. Keck Observatory/Adam Makarenko via haw Ilustrasi planet berbatu

Planet ini mengorbit bintang TESS Object of Interest (TOI) 561. TOI-561 termasuk dalam populasi bintang langka yang disebut piringan tebal galaksi.

Bintang cakram tebal berbeda secara kimiawi karena punya lebih sedikit unsur berat (dan terutama lebih sedikit besi) daripada bintang lain khas Bima Sakti. Ini menunjukkan bahwa mereka terbentuk lebih awal, sekitar 10 miliar tahun yang lalu.

Piringan tebal galaksi juga memiliki gerakan mengembara yang dapat mengangkat mereka keluar dari bidang galaksi. “Planet berbatu yang mengorbit TOI-561 adalah salah satu planet berbatu tertua yang pernah ditemukan. Keberadaannya menunjukkan bahwa alam semesta telah membentuk planet berbatu hampir sejak pembentukannya 14 miliar tahun yang lalu,” kata pemimpin tim yang menemukan sistem planet TOI-561, Lauren Weiss dilansir dari situs resmi IfA pada Selasa (12/1).

Hasil penemuan Weiss diumumkan pada konferensi pertemuan American Astronomical Society Januari 2021 dan diterbitkan di Astronomical Journal. Planet berbatu yang mengorbit TOI-561 mentransmisikan bintangnya. Ini berarti planet itu lewat di depan bintangnya seperti yang terlihat dari Bumi, menghalangi sebagian kecil cahaya bintang

Planet itu terbilang berukuran kecil, dengan radius hanya satu setengah kali radius Bumi. Akibatnya, reduksi cahaya yang ditimbulkannya sangat kecil, hanya 0,025 persen dari kecerahan bintang. Para astronom IfA memperhatikan perubahan intensitas ini dan menggunakan Spektrometer Echelle Resolusi Tinggi Keck Observatory untuk mengkonfirmasi keberadaan planet tersebut.

Dengan mengukur goyangan bintang yang disebabkan oleh gravitasi planet, mereka dapat menyimpulkan bahwa planet tersebut memiliki massa tiga kali lipat Bumi. Menggabungkan massa ini dengan radius yang ditentukan dari transit, tim menyimpulkan planet tersebut kemungkinan besar berbatu, mungkin dengan kandungan besi lebih sedikit dari Bumi.

Diketahui, TOI-561 memiliki setidaknya dua planet lain yang transit di bintang. Keduanya memiliki radius sekitar dua kali Bumi dan terlalu besar dan bermassa rendah untuk menjadi batuan

Leave a Reply

Your email address will not be published.