Peneliti Buat Alat Permudah Astronaut Saat Kembali ke Bumi

Profesor Dr Gordon Waddington dari University of Canberra.
© ABC.net Profesor Dr Gordon Waddington dari University of Canberra.

Dwi MurdaningsihREPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Peneliti Australia kini mengembangkan alat yang akan mempermudah para astronaut untuk kembali bergerak normal saat kembali ke Bumi. Setelah menghabiskan waktu di luar angkasa, astronaut umumnya mengalami gangguan gerakan tubuh yang hingga kini belum teratasi.

Profesor Dr Gordon Waddington dari University of Canberra menjelaskan, para astronot mengalami gangguan sensorimotorik. Ini adalah hilangnya kontrol terhadap lengan mereka begitu mendarat di Bumi.

“Alat ini bertujuan untuk memperkuat sensorimotorik pada bagian lengan bawah astronot,” jelas Profesor Waddington.

photo
© Disediakan oleh Republika.co.id photo Astronaut di ruang angkasa. – (space)

Kaus kaki kompresi

Profesor Waddington yang juga direktur Research Institute for Sport and Exercise (UCRISE) akan memanfaatkan pengalamannya dalam teknologi keolahragaan. “Kita bisa memanfaatkan peralatan yang dikembangkan dalam penelitian ini untuk mengatasi gangguan sensorimotorik yang dialami para astronot, melalui peralatan yang bisa dipakai,” jelasnya.

Peralatan tersebut, kata Prof Waddington, yaitu berupa sejenis kaos kaki kompresi, yang akan diproduksi oleh SRC Health, sebuah perusahaan garmen khusus kesehatan di Melbourne.

Peralatan berbentuk seperti kaos kaki ini dikenakan ke lengan bawah astronaut untuk memperkuat sisten sensorimotorik yang berfungsi mengendalikan pergerakan tangan mereka.

Selain digunakan para astronaut, kaos kaki kompresi ini juga bisa membantu orang yang mengalami cedera dan membantu para lansia agar tidak jatuh.

Salah satu perusahaan yang dimiliki University of Canberra, Prism Neuro, nantinya juga akan mengembangkan produk dengan menggunakan teknologi ini.

“Proyek ini akan memajukan pengembangan peralatan kesehatan dan terapi untuk membantu mengatasi, mengobati dan meningkatkan kemampuan sensorimotorik manusia,” kata Profesor Paddington.

photo
© Disediakan oleh Republika.co.id photo

Astronot Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA), Christina Koch, memecahkan rekor dalam bidang antariksa (Foto: Astronaut, Christina Koch) – (nasa.gov) ilustrasi

Ketika astronaut menghabiskan waktu lebih dari empat minggu di luar angkasa, kurangnya stimulus eksternal menyebabkan mereka mengalami gangguan sensorimotorik tersebut. Teknologi ini akan mengurangi risiko kecacatan manusia dalam pesawat ruang angkasa.

“Proyek ini menjawab kebutuhan NASA untuk melakukan penelitian Human Exploration Research Opportunities dan bertujuan meningkatkan kinerja dan rehabilitasi para astronot yang terlibat dalam misi antariksa NASA dan ESA (badan antariksa Eropa),” katanya.

Penelitian yang dilakukan Prism Neuro ini melibatkan perusahaan Australia elmTEK and SRCHealth, dengan dana sebesar 432.000 dolar Australia dari ‘Australian Space Agency’ (ASA).

“Sangat menggembirakan bagi Australia untuk terlibat dalam penelitian NASA, khususnya menjawab permasalahan medis di luar angkasa serta dampak kehidupan luar angkasa bagi manusia,” ujar direktur elmTEK Ganen Ganeswaran.

Pengendali misi ruang angkasa

Awal pekan ini (15/06), Australia meluncurkan pengendali misi ruang angkasa yang berlokasi di Adelaide. Mission Control Centre dari badan antariksa Australian Space Agency memungkinkan para peneliti untuk mengontrol misi luar angkasa dan berkomunikasi dengan para astronot di stasiun luar angkasa internasional ISS.

Menteri Perindustri, Sains dan Teknologi Australia, Karen Andrews menjelaskan Mission Control Centre akan mendorong pertumbuhan sektor industri luar angkasa Australia serta menciptakan lapangan kerja.

Fasilitas ini diluncurkan bersama Space Discovery Centre, yaitu fasilitas pendidikan internasional yang bertujuan mempromosikan industri luar angkasa bagi generasi muda.

Menurut laporan kantor berita AAP, Pemerintah Federal menyisihkan dana 700 juta dolar Australia untuk sektor luar angkasa Australia, dan meningkatkannya menjadi 12 miliar dolar untuk menciptakan 20 ribu lapangan kerja di tahun 2030.

Leave a Reply

Your email address will not be published.