Mengucapkan Syahadat Menjelang Kematian Bukan Perkara Mudah

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, alam dan luar ruangan, teks yang menyatakan 'MengucapkanSyahadat Syahadat Menjelang Kematian Bukan Perkara Mudah Semua itu terkait sejarah panjang ketaatan dalam kehidupan seorang insan. Dan mengucapkan kalimat mulia tersebut di penghujung hayat tidak akan tergapai kecuali oleh mereka yang ketaatannya itu diterima oleh Allah. instagram @yani_fahriansyah facebook yanı fahriansyah'

Seorang syaikh mengajarkan tauhid dan akidah kepada para muridnya. Beliau mendidik mereka kalimat tauhid dan menjelaskan maknanya dengan panjang lebar disertai keteladanan dalam rangka meneladani apa yang telah dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Para muridnya tahu dengan baik bahwa guru mereka itu begitu senang memelihara burung dan kucing. Karena itu, saat baru saja durus (pelajaran harian) usai, salah seorang murid menghadiahkan seekor burung beo kepada guru tercinta. Hari terus berlalu. Bertambahlah kecintaan sang syaikh kepada burung beonya itu. Beliau kerap kali mengajak hewan yang pandai meniru suara itu dalam majelis beliau.

Hingga pada akhirnya sang burung begitu mahir mengucapkan kalimat la ilaha illallah. Burung beo mengucapkan kalimat itu siang dan malam. Suatu ketika, tiba-tiba syaikh menangis dan ini menjadikan para muridnya heran lantas bertanya alasannya. Syaikh menjawab:”Seekor kucing menyerang dan mencakar burung beo hingga mati.””Apakah anda menangis hanya gara-gara ini wahai syaikh? Kalau anda berkenan, kami bisa memberikan burung beo lain yang lebih bagus.”

“Sungguh bukan itu. Ada hal lain yang membuatku menangis pilu. Si beo, ketika diterkam kucing, begitu menjerit dan terus menjerit kesakitan hingga mati tanpa mengucapkan apapun padahal selama hidupnya begitu sering mengucapkan kalimat tauhid. Ia lupa kalimat tauhid itu karena selama ini si beo hanya mengucapkannya di semata lisan saja, tak menghujam dalam jiwa.Aku begitu takut kita mengalami seperti beo ini di penghujung senja umur kita. Kita hidup di dunia dan mengucapkan la ilaha illallah dengan lisan kita namun ketika malaikat maut hadir kita lupa dan tidak mengingatnya sama sekali karena hati kita belum mengetahui makna kalimat tauhid.” Ujar Syaikh.

Para murid syaikh pun menangis karena takut akan ketiadaan kejujuran hati tentang kalimat la ilaha illallah.—–

Diterjemahkan dan diadaptasi dari pesan WA syaikh Abdul Wahhab al-Hakamiy, seorang dosen LIPIA berkebangsaan Saudi Arabia.Sumbawa, 14 Syawwal 1435 H/11 Agust. 2014 M Ustadz Yani Fahriansyah

Leave a Reply

Your email address will not be published.