Tiga Hal yang Tidak Pernah Kembali

ثلاثة أشياءلن  تعود : الكلمة إذا خرجت والزمن إذا مضى والثقة إذا ضاغت

Tiga hal yang tidak akan pernah kembali:

– Kalimat jika sudah diutarakan,

– waktu jika berlalu dan

– kepercayaan jika sirna.

Ada tiga hal dalam kehidupan manusia yang tidak bisa diputar kembali, karenanya kita harus berhati-hati dalam menggunakkannya, sebab jika ketiga hal ini di salahgunakan maka akan binasalah kehidupan anak Adam dimuka bumi ini.

Yang pertama adalah kalimat jika sudah disampaikan, maka seorang manusia benar benar harus berfikir keras sebelum berkata kata, jangan sampai perkataannya berisi kebohongan dan fitnah.

Berpikirlah sebelum berbicara

Kata–kata itu seperti busur panah, jika ia sudah meluncur, maka sulit untuk di tarik kembali, walau kita berusaha untuk mengkoreksi, karena yang diingat manusia, tetap perkataannya yang pertama

Allah meletakkan akal di atas kepala agar manusia berfikir dahulu sebelum berbicara, bukan bicara dahulu ,baru kemudian berfikir, ulama berkata

“فكر قبل أن تعزم”

Berfikirlah sebelum berbuat “

Rabalah perasaan sebelum berkata-kata, karena perkataan itu bisa menembus apa yang tidak bisa ditembus oleh jarum.

Sebuah perkataan jika belum diucapkan, ia masih dibawah kendali kita.  Namun jika sudah terlanjur diucapkan, maka kitalah yang berada dibawah kuasanya. Karenanya sesuaikanlah antara kata dan aksi nyata.

Lidah sangat kecil dan ringan tetapi dapat membawa Anda ke ketinggian terbesar dan dapat menempatkan Anda di kedalaman terendah. (Abu Hamid Al Ghazali)

Tidak sedikit orang besar jatuh karena tidak pandai menjaga tutur kata dan banyak orang yang sebelumnya tidak diperhitungkan, namun ia menjadi dikenal karena pandai berorasi dengan lidah yang Allah karuniakan kepadanya.

Sebagaimana yang di ucapkan oleh bung Karno: Aku ini bukan apa-apa kalau tanpa rakyat. Aku besar karena rakyat, berjuang karena rakyat, dan aku penyambung lidah rakyat.

Yang kedua yang tidak bisa kembali adalah waktu, karenanya gunakanlah ia dengan sebaik-baiknya.

Ali Ra berkata:

“Uang yang luput darimu hari ini, masih bisa engkau raih esok hari tetapi waktu yang luput darimu, maka ia tidak akan pernah kembali lagi.

Jangan sia – siakan waktu

Allah memberikan kesempatan yang sama kepada kita, yaitu 24 jam, namun hasilnya ternyata berbeda–beda, ada orang yang bisa hafal Quran 30 juz, tetapi ada yang hanya sampai juz 30 saja sampai akhir hayatnya. Ada yang bisa menulis banyak buku dengan modal waktu yang ia punya dan ada yang mati tanpa karya tulis satu pun, sehingga namanya hanya tertulis di batu nisan saja.

Ada yang dipagi hari usai shalat subuh ia sudah zikir pagi, membaca al Quran satu juz, kemudian ia lanjut shalat syuruq yang pahalanya senilai dengan melaksankan ibadah umrah, dan ada juga orang yang mengisi paginya dengan tidur, padahal Allah turunkan keberkahan di waktu pagi dan ketahuilah tidur dipagi hari itu bisa mewariskan kemiskinan.

Ketahuilah sahabatku jika kita menyia-nyiakan waktu. maka waktu akan menyia-nyiakan kita.

Imam Syafi meningatkan dalam sebuah syairnya:

الوقت كالسيف إن لم تقطعه قطعك

“Waktu itu seperti pedang jika engkau tidak memotongnya ,maka engkau yang akan dipotongnya.

Jangan habiskan waktu untuk membenci dan fitnah sesama, tetapi gunakanlah waktu untuk menebar cinta, persaudaraan dan kasih sayang, sebagaimana yang di katakan oleh Mario Teguh

“Aku tak punya waktu untuk membenci orang yang membenciku, karena aku terlalu sibuk mencintai mereka yang mencintaiku”

Jangan habiskan waktu untuk bersedih, karena kita dilahirkan untuk bahagia ,lihat saja hari hari kita, bukankah kita lebih banyak sehatnya dari sakitnya, lebih banyak tawa dan senyum yang menghiasi wajah kita dari pada duka dan air mata, itu adalah signal dari Allah, bahwa Ia ciptakan kita untuk bahagia.

Yang ketiga dimana jika ia sudah rusak maka akan sulit untuk kembali adalah kepercayaan atau dalam bahasa Arabya disebut dengan atsiqoh .Tsiqoh artinya adalah hadirnya ketenangan prajurit bersama pemimpin yang ia ikuti, karena ia yakin bahwa pemimpinya tidak akan menghianatinya .

Istri yang tsiqqoh kepada suaminya adalah ia yang tenang bersama belahan jiwanya, bahwa suaminya akan setia kepadanya, akan melindunginya dan akan menafkahinya dengan harta yang halal, karena itu merasa yakin hidup bersamanya walau harus berpisah dengan orang tua kandungnya yang mengurusnya dari kecil, kemudian dia ikut dengan sosok laki-laki yang baru ia kenal, itu semua ia lakukan karena hadirnya kepercayaan kepada sang suami.

Teman yang tsiqqoh kepada temanya adalah ia yang ia tenang jika temannya berbicara kepadanya, karena ia yakin bahwa temannya itu tidak akan berbohong, dia juga tenang saat kerja sama dalam hal bisnis, karena ia yakin bahwa sahabatnya tidak akan menipunya.

Tsiqoh itu seperti bayi yang di lempar ke atas oleh ayahnya dan ia tertawa riang karena ia percaya bahwa ayahnya pasti akan menangkapnya dan tidak membiarkannya ia jatuh.

Jagalah kepercayaan kita sebagai pejabat, sebagai kepala keluarga, sebagai istri dan sebagai apapun dalam jabatan yang kita emban karena sekali lancung kehidupan seumur hidup orang tidak percaya.

Ali bin Abi Thalib berkata:

Orang yang suka berkata jujur mendapatkan tiga hal: kepercayaan, cinta dan rasa hormat.

Maka untuk sebuah kepercayaan yang harus terus melekat dalam diri kita, biasakanlah berkata jujur karena lisan itu mengikuti kebiasaanya dan sampai Allah menulis kita dalam barisan yang mereka yang shiddiqin yaitu orang–orang yang jujur

Ada yang berubah, ada yang bertahan. Karena zaman tak bisa dilawan. Yang pasti kepercayaan harus diperjuangkan begitulah kata penyair terkemuka Indonesia Chairil Anwar.

Kita harus berjuang menjadi pribadi yang terpercaya karena disitulah nilai dan kualitas manusia dimana akhir-akhir ini semakin sedikit mencari saudara yang kita menaruh kepercayaan kepadanya

Jika kepercayaan disia-siakan maka tunggu saja kehancurannya ,sebagaimana yang disampaikan Rasululullah saw dalam hadist berikut ini :

Semoga anggota DPR RI amanah

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radadhiyallahu anhu dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.

‘Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat,’ dia (Abu Hurairah) bertanya,

‘Wahai Rasulullah, bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?’

Beliau menjawab,

‘Jika satu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah hari Kiamat!’

Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi MA
Dipersembahkan oleh: manis.id (WAG): http://bit.ly/mediamanis

Leave a Reply

Your email address will not be published.